PET Circularity

PET Circularity

PET Circularity: Membangun Ekonomi Sirkular melalui Proses Daur Ulang PET

Artikel ini merupakan saduran dari presentasi penulis pada Webinar PDF yang diadakan pada hari Jumat, 25 Juli 2025 jam 20.00 WIB.

Penulis: Cahyani Fitria Utami – Site Packaging Engineer

Dalam menghadapi tantangan global terhadap limbah plastik, circularity of PET (daur ulang PET) menjadi solusi utama dalam menciptakan kemasan berkelanjutan. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, proses daur ulang plastik—khususnya recycled PET (RPET)—dapat mengubah limbah menjadi sumber daya baru yang bernilai guna.

Perbandingan: Virgin PET vs Recycled PET

PET murni atau virgin PET merupakan bahan plastik yang dihasilkan langsung dari sumber daya fosil. Sebaliknya, RPET adalah hasil dari proses daur ulang plastik yang sudah digunakan sebelumnya. Dengan menggunakan RPET, industri kemasan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru, menekan jejak karbon, serta berkontribusi pada pengurangan limbah plastik.

Upaya ini sejalan dengan prinsip membangun ekonomi sirkular, yang bertujuan untuk menghentikan siklus “ambil–pakai–buang” (take–make–dispose) dan menggantinya dengan sistem “pakai ulang dan daur ulang”.

Dari sudut pandang lingkungan, perbedaan antara virgin PET dan recycled PET (RPET) sangat signifikan. Berdasarkan data:

  • Produksi 1 kg virgin PET menghasilkan sekitar 2.15 kg CO₂ ekuivalen.

  • Sementara itu, produksi 1 kg RPET hanya menghasilkan sekitar 0.45 kg CO₂ ekuivalen.

Artinya, penggunaan RPET dapat mengurangi emisi karbon hingga lebih dari 75% di bandingkan PET murni. Ini menjadikan plastic recycling sebagai pilar utama dalam strategi pengurangan emisi dan konservasi sumber daya alam tak terbarukan.

 

Pendekatan Teknologi Daur Ulang PET

1. Mechanical Recycling (RPET Mekanis)

Merupakan metode daur ulang plastik yang paling umum di gunakan saat ini. Proses ini meliputi:

  • Penyortiran berdasarkan warna dan jenis plastik,

  • Pencucian untuk menghilangkan kontaminan,

  • Penggilingan,

  • Pelelehan,

  • Pembentukan ulang menjadi pellet baru.

Input dari mechanical recycling dapat berupa flakes atau bales. Botol akan disegregasi berdasarkan warna. Untuk recycle PET proses hanya menggunakan botol berwarna bening atau kebiruan untuk menjaga warna resin yang dihasilkan. Kemudian, untuk aplikasi kemasan pangan, tahap Solid State Polycondensation (SSP) menjadi krusial guna memastikan keamanan kontak dengan makanan.

Proses ini umumnya menggunakan pembersih yang ringan atau soda kaustik (Caustic Soda), untuk menghindari kontaminasi bahan kimia berbahaya pada hasil akhir resin rpet.

2. Chemical Recycling (Advanced Recycling)

Teknologi advanced recycling atau daur ulang kimiawi memungkinkan PET di ubah kembali ke bentuk molekul dasarnya. Feedstock hasil daur ulang ini kemudian di masukkan ke dalam proses produksi polimer baru, menggunakan prinsip mass balance untuk mengalokasikan proporsi bahan daur ulang ke dalam produk akhir.

Kelebihan dari pendekatan ini adalah kemampuannya menghasilkan material dengan kualitas yang sama seperti virgin PET, termasuk dalam aplikasi kemasan pangan.

 

Tantangan dalam Penggunaan RPET Mekanis

Meski menjanjikan, daur ulang mekanis masih menghadapi beberapa kendala teknis dan operasional, seperti:

  • Kualitas yang tidak konsisten, terutama dalam hal intrinsic viscosity (IV) dan warna antar batch (misalnya: abu-abu, kekuningan).

  • Penyusutan (shrinkage), khususnya pada komponen presisi seperti tutup botol (snap cap).

  • Kemunculan blackspot akibat kontaminasi partikel asing.

  • Persepsi konsumen terhadap tampilan kemasan daur ulang yang cenderung lebih buram.

  • Regulasi ketat, khususnya untuk kemasan makanan dan minuman yang di pasarkan secara internasional.

 

Panduan Implementasi RPET untuk Industri Kemasan

Agar penggunaan recycled PET berhasil di terapkan dalam rantai pasok industri, berikut beberapa hal penting yang perlu di perhatikan:

  1. Identifikasi Jenis RPET
    Tentukan tipe RPET yang paling sesuai dengan karakteristik produk dan kemasannya.

  2. Pahami Regulasi yang Berlaku
    Pastikan bahwa penggunaan RPET memenuhi semua regulasi terkait, termasuk standar food grade dan ketentuan di negara tujuan pasar.

  3. Analisis Interaksi Produk dan Material
    Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap interaksi antara produk yang di kemas dengan material RPET, untuk menghindari degradasi atau reaksi kimia yang tidak di inginkan.

  4. Bangun Kemitraan Strategis
    Libatkan mitra konverter RPET dan produsen kemasan plastik sejak awal dalam proses pengembangan produk, guna memastikan kesesuaian teknis dan kualitas.

 

Arah Masa Depan Circularity PET

Perjalanan menuju sustainable packaging tidak berhenti di sini. Masa depan PET circularity akan sangat di pengaruhi oleh:

  • Peningkatan teknologi daur ulang kimia (advanced recycling technology) yang lebih efisien dan ekonomis.

  • Pemanfaatan renewable feedstock sebagai sumber bahan baku alternatif.

  • Integrasi dengan sistem closed-loop recycling, di mana kemasan di gunakan kembali sebagai bahan dasar untuk produk serupa tanpa mengorbankan kualitas.

 

Penutup

Circularity of PET adalah salah satu pendekatan paling menjanjikan untuk mengurangi limbah plastik dan mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular. Melalui kombinasi pendekatan mekanis dan kimiawi, serta komitmen pada inovasi dan kepatuhan regulasi, recycled PET dapat menjadi tulang punggung dari sistem kemasan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

You must be logged in to post a comment